Cerita dari Nabila, Kader IPM Muallimaat Jogja Peserta Pertukaran Pelajar ke Italia

Senin, 05 Maret 2018
cerita-dari-nabila-kader-ipm-muallimaat-jogja-peserta-pertukaran-pelajar-ke-italia

IPM.OR.ID, Yogyakarta – Satu lagi kabar dari kader IPM yang mencetak prestasi internasional. Ulima Nabila Adinta, pelajar Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta menjadi peserta AFS Student Exchange ke Italia. Gadis 18 tahun yang biasa disapa Nabila ini tinggal di Desa Via Igne, Belluno (sebuah provinsi di Italia bagian utara) selama satu tahun. Tentunya pertukaran pelajar ini memberikan cerita yang menarik untuk disimak.

 

Nabila sendiri sejak dahulu memiliki motivasi luar biasa untuk mengikuti pertukaran pelajar setelah membaca beragam buku yang menceritakan anak dari keluarga sederhana berhasil menjelajah ke luar negeri. Ia pun sejak jenjang SD mengimpikan untuk keliling dunia dan ikut dalam pertukaran pelajar ketika SMA. Akhirnya, saat pendaftaran dibuka Nabila bersaing dengan 600 pelajar se-DIY dan sekitarnya. Jika ditotal, peserta seleksi se-Indonesia mencapai 7200 pelajar. Nabila pun terpilih menjadi 1 dari hanya sekitar 150 peserta seluruh Indonesia yang lolos dan berangkat menjadi peserta pertukaran pelajar.

Selain itu, perjuangan setelah tes menuju pemberangkatan juga tidak mudah. Nabila harus memenuhi pemberkasan yang begitu rumit dan kebutuhan pendanaan yang cukup banyak. Hingga membawanya mengajukan bantuan ke berbagai pihak mulai dari Lazismu, LSM, pemerintah daerah, hingga kementerian. Terlebih lagi anak pertama dari empat bersaudara ini berasal dari keluarga yang berkehidupan seadanya. Sehingga keberhasilan mendarat dan tinggal di negara asal pizza, struddle, gelato, dan tiramisu yang terkenal seantero dunia tentunya menjadi sebuah anugerah yang luar biasa.

Selama 10 bulan di Italia, eks Ketua Bidang Organisasi PR IPM Mu’allimaat ini menjalankan kegiatan-kegiatan rutin layaknya siswa SMA setempat. Nabila bersekolah 6 hari per pekan dari jam 8.00 hingga 13.00 waktu setempat di Liceo Statale Giustina Renier, serta ditambahkan ekskul karate 2 kali setiap pekannya. Asyiknya, saat akhir pekan Nabila mengalami hari-hari yang menyenangkan. “Kalau weekend kadang pergi main ski dan climbing ke gunung bareng host family. Itu asyik banget karena aku bisa belajar alamnya Italia, termasuk jelajah Dolomiti yang ada dalam daftar World Heritage-nya UNESCO,” ujar Nabila yang sejauh ini telah mengunjungi lebih dari 20 kota dan negara San Marino selama lima bulan tinggal di Italia.

 

Hal-hal menarik yang tak ditemui di Indonesia pun banyak dijumpai oleh Nabila selama di Italia. Antara lain suhu dingin yang bisa mencapai -10 derajat celsius, sehingga memungkinkan terjadinya hujan salju. Selain itu, dari segi pendidikan Nabila mengalami perbedaan signifikan dimana di Italia terdapat pelajaran Storia dell’arte (Sejarah Seni) dan Filosofia (Filsafat), juga uji kompetensi dilakukan dengan cara berbeda. “Setiap pelajaran pasti ada I’interrogazione (semacam ujian lisan setiap hari, setiap siswa pasti mendapatkan giliran), jadi benar-benar mendalam,” katanya menambahkan.

Berkaitan dengan keadaan negara tujuan, Italia sendiri merupakan negara yang didominasi penduduk beragama Katolik atau bahkan Atheis. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi Nabila yang notabene seorang penganut Islam dan juga santri. “Awalnya mereka (orang Italia) mengira orang Islam itu tertutup, dengan kehadiranku di tengah keluarga Italia finally membuat mereka berpikir bahwa Islam nggak se-tertutup itu,” kata Nabila. Akhirnya dengan segala tantangan yang ada, ia justru makin istiqomah dalam berislam bahkan menyampaikan dengan santun tentang apa dan bagaimana Islam sebenarnya.

 

Setelah mengalami kehidupan di Italia dengan segala perbedaannya dengan Indonesia, Nabila merasakan bahwa dunia sangat luas dan pengetahuan kita masih sangat sempit. “Aku belajar banyak hal yang unpredictable banget. Ini bekal pendewasaan diri buat masa depan diri sendiri, agama, dan bangsa Indonesia,” tandas Nabila di akhir wawancara via Whatsapp.

Pengalaman Nabila ini tentunya menjadi motivasi bagi kader IPM se-Indonesia untuk menjelajah dunia dan belajar banyak hal yang sebelumnya tak terbayang sama sekali. (oase/nab)