Sejarah

Sejarah Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta

 

Sejarah berdirinya Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari tujuan didirikannya Muhammadiyah. Muhammadiyah bertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah memerlukan kader-kader ulama yang memiliki kualifikasi menyeluruh (multi side competency), yakni sebagai faqih, muballigh, mujahid, dan  mujtahid yang memiliki komitmen  tinggi, berwawasan luas, dan profesional dalam mengemban misi Muhammadiyah. Kader  ulama Muhammadiyah tersebut memiliki peran ke dalam sebagai penggerak yang menjalankan fungsi pelopor, pelangsung, dan penyempurna perjuangan dan amal usaha Muhammadiyah sedangkan ke luar mampu menjadi kader umat, bangsa, dan dunia yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin.

 

Inilah sebabnya, pada tahun 1918, K.H.A. Dahlan mendirikan Al-Qismul Arqa yang kemudian diubah menjadi Pondok Muhammadiyah (tahun 1921), lalu menjadi Kweekschool Moehammadiyah (1923). Kemudian tahun 1924 siswa Kweekschool Islam dipisah antara pria dan wanita. Kweekschool Muhammadiyah untuk putra dan Kweekschool Istri untuk putri. Baru pada tahun 1932 Kweekschool Muhammadiyah  diubah menjadi Madrasah Mu‘allimin, Kweekschool Istri diubah menjadi Mu‘allimaat. Setahun kemudian kedua madrasah tersebut dipisah. Madrasah Mu‘allimin berlokasi di Ketanggungan Yogyakarta dan Madrasah Mu‘allimaat bertempat di Kampung Notoprajan Yogyakarta.

 

Pada Konggres Muhammadiyah Ke-23 tahun 1934 di Yogyakarta, ditegaskan bahwa Madrasah Mu‘allimin-Mu‘allimaat Muhammadiyah Yogyakarta merupakan Sekolah Kader Persyarikatan Tingkat Menengah yang diadakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah; yang memiliki tujuan sebagai berikut : (1) mencapai tujuan Muhammadiyah, (2) membentuk calon kader Muhammadiyah, (3) menyiapkan calon pendidik, ulama dan zuama’ yang  berkemampuan  mengembangkan  ilmu  pengetahuan (Ensiklopedi Muhammadiyah, 2005: 244). Pada Konggres Muhammadiyah di Medan tahun 1938 dua Madrasah tersebut memperoleh pengukuhan secara legal.  Pada saat itu Konggres mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai pengelola dan penanggung jawab keberadaan dua madrasah di Yogyakarta ini. Pada tahun 1994 dua Madrasah ini kembali memperoleh penegasan ulang melalui surat keputusan PP Muhammadiyah No.63/SK-PP/VI-C/4.a/1994, tentang Qa’idah Madrasah Mu‘allimin-Mu‘allimaat Muhammadiyah Yogyakarta.

 

Seiring dengan perkembangan Muhammadiyah dan masyarakat secara geografis (lokal dan global) dan tantangan era globalisasi, Madrasah Mu‘allimin-Mu‘allimaat Muhammadiyah Yogyakarta sebagai “Madrasah amanat Muktamar” dituntut menyikapi perubahan tersebut secara profesional, arif dan bijaksana tanpa meninggalkan identitasnya sebagai sekolah kader Persyarikatan di masa depan. Supaya sistem pendidikan berlangsung efektif selama 6 tahun maka seluruh proses pembinaan dan pendidikan di Madrasah ini berjalan selama 24 jam  dengan sistem Boarding School (sekolah berasrama).