Alumni Mu’allimaat Mendunia, Lulus dari Universitas Al-Azhar Kairo

  • 09 Sep 2021
  • 1286
Alumni Mu’allimaat Mendunia, Lulus dari Universitas Al-Azhar Kairo

Amastasya Dhyaz Pratiwi S, kerap dipanggil Tasya. Ia adalah perempuan kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah yang lahir tanggal 22 Juli 1998. Alumni Madrasah Mu’allimaat ini merupakan angkatan 90 dan lulus tahun 2016, serta berhasil menamatkan studi S1 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia menuturkan bahwa mengenyam pendidikan enam tahun di Madrasah Mu’allimaat adalah paket lengkap, dorongan yang diberikan sangat besar untuk mewujudkan setiap impian santriwatinya.

“Mu'allimaat adalah madrasah paket lengkap yang mendukung siswi-siswinya untuk aktif di bidang apa saja yang di senanginya. Salah satu contohnya adalah ketika saya akan bersekolah di Mesir. Dari awal sampai akhir saya merasa sangat didukung. Saya harap semangat mendukung kader-kader Mu'allimaat tetap langgeng sampai hari ini”, ungkap Tasya yang dihubungi melalui whatsapp chat.

Seseorang yang mempunyai impian ibaratkan daya magnet yang kuat sehingga ada daya tarik menarik antara keduanya. Usaha tentunya menjadi poin penting untuk mewujudkan impian tersebut. Selain usaha, ada faktor dukungan dari berbagai pihak yang turut menentukan keberhasilan.

Menurut Tasya, bekal yang didapatkan dari Mu’allimaat sangat lebih dari cukup. Mulai dari akademik, baik ilmu umum maupun ilmu agama, pengembangan non-akademik seperti skill berbahasa, seni dan olahraga. Termasuk softskill kepemimpinan yang didapat di organisasi santri (organtri). Bahkan yang tidak pernah menjabat di organtri pun seperti sudah otomatis mendapatkan skill kepemimpinan yang di dalamnya include juga public speaking, bagaimana mengkoordinir sesuatu, dan bagaimana menjadi pemimpin sekaligus decision maker.

“Semua hal saya jalani dan berhasil saya dapatkan di Mu'allimaat. Satu lagi, ada satu amanah nampaknya seperti sebuah beban namun terasa seperti sebuah kelebihan bagi alumninya, yaitu jiwa kader persyarikatan, yang nantinya kemana pun berdiaspora akan tetap melekat”, imbuhnya.

Bentuk dukungan dari Madrasah Mu’allimat salah satunya adalah dengan memberikan banyak sekali opsi bidang yang disukai untuk berkembang. Ketika MTs, Tasya menyampaikan bahwa ia cenderung pada hal agama dan bahasa arab. Berawal dari itulah madrasah mulai mengadakan ektrakurikuler matan ajurumiyah (saat itu ekskul wajib bagi kelas multilingual kelas 1-2 MTs). Lomba-lomba juga turut disediakan sebagai wadah berkembang, dan diikuti adalah berkaitan dengan agama dan bahasa arab, seperti pidato bahasa arab, debat bahasa arab, musabaqah qira'atul kutub dan semuanya berhasil memperoleh juara.

Puncaknya adalah ketika masuk kelas MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) dan ketika benar-benar membulatkan tekad untuk mendaftarkan ke perguruan tinggi yaitu Universitas Al-Azhar. Madrasah Mu'allimaat dan Mu'allimin memfasilitasi dengan diadakannya dauroh Timur Tengah selama kurang lebih dua pekan. Daurah ini diadakan selama dua sesi dengan guru pengajar lulusan Universitas Al-Azhar

Alhamdulillah setelah imtihan qabul atau ujian tes penerimaan mahasiswa ke Universitas Al-Azhar saya berhasil masuk perguruan tinggi impian saya sejak MTs. Saat itu saya merasa bahwa Mu'allimaat belum memiliki banyak role model yang bersekolah di Timur Tengah khususnya. Sehingga saya sangat tergerak untuk studi ke kiblatnya ilmu agama langsung yaitu di Mesir. Apalagi setelah Mu'allimaat banyak membukakan jalan bagi kami untuk mengikuti seleksi”, ulas Tasya yang mengambil jurusan Tafsir Al-Qur'an, Fakultas Ushuluddin (Theologi Islam).

Harapan besar Tasya sampaikan untuk seluruh santriwati Mu’allimaat. Ia menuturkan bahwa janganlah takut untuk berdiaspora kemanapun, karena menjadi kader Mu'allimaat dan kader Persyarikatan sudah menjadi barang tentu sebagai representasi dari Islam itu sendiri, dan kembalilah ke Mu'allimaat untuk membuat perubahan menuju yang lebih baik.

"Ikhtiar diaspora kader mendunia ini juga selaras dengan apa yang menjadi cita-cita Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan 'Aisyiyah untuk semakin banyak mencetak kader-kader ulama. Insyaallah dengan dukungan yang kuat dari madrasah, perwujudan ulama dan cendekia dari Timur Tengah ini akan semakin berkualitas. Ketika kembali ke tanah air, alumni Mu'allimaat bisa mengisi lumbung-lumbung kader di mana saja, termasuk kembali mengabdi di Mu'allimaat”, pungkasnya yang juga akan menjalani prosesi wisuda pada tanggal 12 September 2021 ini. (LTA)