Gelar Pelepasan Tatap Muka, Madrasah Mu'allimaat Melesatkan 154 Anak Panah Muhammadiyah

  • 15 Jun 2021
  • 219
Gelar Pelepasan Tatap Muka, Madrasah Mu'allimaat Melesatkan 154 Anak Panah Muhammadiyah

Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta melangsungkan wisuda secara tatap muka di Sportorium UMY pada Ahad, 13 Juni 2021. Sejumlah 154 wisudawati kelas VI berasal dari 16 provinsi di Indonesia, yang terdiri dari 72 sisiwi peminatan Matematika dan Ilmu Alam (MIA), 69 sisiwi peminatan Ilmu-Ilmu Sosial (IIS), dan 13 sisiwi peminatan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK).

Perjuangan Mu’allimaat di tengah badai Covid-19

Direktur Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd. mengatakan bahwa acara pelpasan ini sangat membahagiakan. Pasalnya peserta didik dinayatakan lulus 100 persen setelah melalui pembelajaran selama enam tahun dan merasakan pembelajaran online hampir dua tahun sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

“Momen pelepasan ini adalah saat yang membahagiakan, karena lebih dari satu tahun melakukan pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sejak tanggal 5 Juni 2021, Mu’allimaat mampu menghadirkan peserta didik kelas VI dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, sesuai dengan arahan MCCC PP Muhammadiyah. Upaya ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tahun pelajaran 2021-2022,” jelasnya.

Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd. menuturkan, Madrasah Mu’allimaat tetap berkomitmen dalam keadaan apapun, bahkan di masa pandemi. Proses pendidikan di Mu’allimaat tetap berjalan, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, perkaderan, kepemimpinan, dan kepensantrenan. Keadaan ini memberikan semangat besar untuk melahirkan inovasi-inovasi sistem pembelajaran berbasis IT. Hal ini terus dikembangkan agar esensi pendidikan di Mu’allimaat tetap terjaga. 

Pembelajaran daring ini juga menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Badan Pembina Harian (BPH) Mu’allimin-Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Bapak Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. Menurutnya pembelajaran di masa pandemi ini adalah yang sangat berat dilakukan, karena belum ada manusia yang pernah melakukannya.

“Keadaan pandemi ini mengharuskan ada perubahan cara belajar, yakni melalui online. Mu’allimaat mengubah secara drastis menjadi pembelajaran full online. Bukan hal yang mudah menerima kebiasaan baru ini, harus dibekali dengan kapasitas dan keterampilan bermain teknologi. Alhamdulillah Mu’allimaat mampu mengekseskusi dengan baik,” jelasnya pada saat menyampaikan sambutan pelepasan di Sportorium UMY.

Proses pembelajaran boleh berubah, tetapi kualitas tetap harus dijaga sepanjang hayat. Menurut Bapak Dr. H. Agung Danarto, M.Ag., Mu’allimaat telah melakukan tugas dengan baik. Ini merupakan langkah awal dengan adanya kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi kedepannya yang mungkin akan berubah secara drastis.

Mu’allimaat adalah pilihan tepat!

Pemilihan lembaga pendidikan merupakan esensi sangat penting dalam menitipkan peserta didik untuk mewadahi tumbuh kembangnya. Hal ini sangat disadari oleh perwakilan wali siswi kelas VI, Bapak Dr. H. Mugiyanta, M.Si.

“Pendidikan sangat penting didapatkan oleh generasi penerus bangsa. Memilih lembaga pendidikan menjadi penting dalam menjalankan pendidikan untuk anak didik, dan Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta adalah tempat yang tepat. Harapannya bisa menjadi kader persyarikatan, umat dan bangsa,” ungkapnya mewakili wali murid kelas VI.

Berbicara tentang pendidikan, KH. Ahmad Dahlan menyebutkan ada tiga landasan dari makna pendidikan, yakni pendidikan akhlak, pendidikan akal, dan pendidikan sosial. Pertama,pendidikan akhlak. Penanaman pendidikan keagmaan sejak dini, sudah jelas tertulis dalam PHIWM. Harus menunjukkan akhlak mulia dan menjauhi akhlak tercela. Keduaadalah pendidikan akal, yakni dikembangkan potensi daya pikir peserta didik secara maksimal. Terakhir yakni pendidikan sosial, melatih kepakaan sosial kepada sispapun tanpa mebedakan ras, suku, budaya dan agama.

Landasan pendidikan yang digaungkan oleh KH. Ahmad Dahlan sudah diimplementasikan oleh lembaga pendidikan di Muhammadiyah, yakni Madrasah Mu’allimaat. Kiranya begitulah yang disampaikan oleh perwakilan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Ibu Dra. Salmah Orbayinah, M.kes., Apt. pada sesi terakhir sambutan.

Jadilan anak panah Muhammadiyah

Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd. menuturkan bahwa di masa pandemi ini prestasi tidak berhenti, bisa dilihat dari berbagai capaian yang diraih dalam berbagai ranah, baik regional, nasional, bahkan internasional. Tentunya berkat kerjasama dan dukungan civitas akademica sangat diperlukan untuk memberikan kesuksesan kepada santriwati untuk mencapai prestasi yang diharapkan.

Kader Madrasah Mu’allimaat adalah anak panah Muhammadiyah. Tahun 2021 ini, Mu’allimaat melesatkan 154 anak panah dari 16 provinsi yang siap untuk mengabdi dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Enam tahun berproses bukanlah hal yang mudah bagi anak panah Muhammadiyah. Kata Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd., dinamika yang dilalui dari kelas I-VI merupakan proses tempaan untuk membentuk perempuan yang kuat, cerdas, dan hebat.

“Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Nyai Ahmad Dahlan, bahwa jangan menjadi perempuan dengan jiwa kerdil, tetapi harus berjiwa srikandi. Lima kemampuan utama wajib dimiliki, yakni keilamuan, kepribadian, kecakapan, sosial kemasyarakatan, dan gerakan. Diharapkan peserta didik mampu menjalankan perannya baik dari ranah nasional maupun intrnasional,” tutur Direktur Madrasah Mu’allimaat pada saat memberikan sambutan.

“Lahirnya perempuan berkemajuan dari rahim Mu’allimaat, harapannya akan melahirkan perempuan berkemajuan yang memberikan perubahan dan pencerahan bagi bangsa Indonesia di masa yang akan datang,” lanjutnya.

Kader memiliki fungsi yang sangat sentral, yakni penggerak organisasi dan umat. Melalui sekolah kader ini, peserta didik tidak hanya menjadi kader persyarikatan, melainkan menjadi kader pemimpin dan pendidik. Jadilah kader anak panah, mampu melesat dan melintasi zaman. Teruslah bergerak dan belajar.

Akhirnya, kunci sukses inilah yang menjadi peran fundamental dalam keberhasilan peserta didik. Menurut Bapak Dr. H. Agung Danarto, M.Ag., ada dua yang utama, yakni lakukan birul walidain dan senantiasa tebarkan benih-benih kasih sayang kepada siapapun. Dengan demikian, dua kunci ditas adalah puncak keniscayaan untuk menyambut kemudahan kehidupan mendatang. (LTA)