IPM Madrasah Mu’allimaat Adakan Bengkel Tajwid

  • 19 Jan 2021
  • 266
IPM Madrasah Mu’allimaat Adakan Bengkel Tajwid

Kamis, 14 Januari 2021. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta tepatnya Bidang Kajian Dakwah Islam mengadakan agenda yang ditujukan kepada seluruh santriwati, yakni “Bengkel Tajwid”. Acara rutin yang berlangsung pada hari Kamis malam selama dua kali dalam sebulan ini bertujuan untuk wadah belajar dalam memperbaiki bacaan tajwid ketika membaca Al-Qur’an.

Bengkel Tajwid ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan oleh Bidang Kajian Dakwah Islam untuk menambah wawasan dalam ilmu tajwid. Dengan menggandeng Kak Hilda sebagai narasumber yang merupakan alumni Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, peserta yang bergabung pada pertemuan pertama pun sebanyak 217 santriwati.

“Tidak ada kewajiban untuk mengikuti kegiatan ini, melainkan hanya untuk memberikan alternatif kegiatan santriwati di malam hari sebelum menyambut hari libur esoknya. Dan pemilihan surah yang ditentukan tidak ada keharusan, bisa saja berubah setiap pertemuannya. Yang terpenting kegiatan Bengkel Tajwid ini harus tetap berlangsung, seberapapun pesertanya”, jelas Ibu Unik Rasyidah, M.Pd. selaku Wakil Direktur III dan sebagai penanggung jawab kegiatan Bengkel Tajwid.

Ditambah lagi di masa pandemi sekarang ini, sangat perlu menambah ruang-ruang belajar yang bermanfaat. Bukan lagi hanya berselancar di media sosial ataupun bermalas-malasan. Saatnya santriwati Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta mengisi kegiatan luang dengan amalan yang berharga, yakni belajar memperdalam ilmu tajwid.

Acara ini berjalan dengan lancar dan santai, santai tetapi serius. Di mulai dari Kak Hilda memberikan pengantar dan memaparkan materi tentang ilmu tajwid. Jalannya kegiatan Bengkel Tajwid antara lain diawali dengan penjelasan oleh narasumber, membaca ayat bersama-sama, menunjukkan tajwid apa yang ada dalam ayat tersebut, menirukan dan berkahir pada sesi tanya jawab.

Berbagai pertanyaan di sampaikan kepada pemateri tentang kendala-kendala ketika membaca Al-Qur’an. “Intinya sebagai dasar adalah belajar makhorijul huruf. Jangan sampai membaca Al-Qur’an karena terburu-buru ingin segera selesai. Apabila membaca Al-Qur’an secara tergesa-gesa, yang ada hanyalah tajwid tidak diterapkan sama sekali. Dan pada akhirnya hanya akan mendapatkan kesia-siaan”, jawab Kak Hilda menutup sesi tanya jawab. (LTA)