Kajian Rutin Rencang Suwarga “Membangun Keluarga Sakinah”

  • 31 Mar 2021
  • 201
Kajian Rutin Rencang Suwarga “Membangun Keluarga Sakinah”

Ahad, 14 Maret 2021. Madrasah Mu’allimaat mengadakan kajian rutin ‘Rencang Suwarga’ secara virtual untuk guru, karyawan, dan orang tua wali murid. Tema yang diusung pada kajian ini adalah “Membangun Keluarga Sakinah”, dengan menggandeng Bapak Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si. sebagai narasumbernya. Beliau adalah BPH (Badan Pengurus Harian) Madrasah Mu’allimin-Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus konsultan keluarga.

Keluarga merupakan salah satu pilar pendidikan. Sehingga dalam aspek pendidikan, keluarga memegang peran yang sangat penting untuk selalu dioptimalkan dan diusahakan. Hal tersebut sejalan dengan penyampian Direktur Madrasah Mu’allimaat, Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd. pada sesi sambutan. “Pendidikan di Madrasah Mu’allimaat dengan sistem asrama, peran dari keluarga tetap menempati posisi yang sangat penting”, ujar beliau. Dengan demikian sangat diperlukan strategi dalam membangun keharmonisan keluarga dalam ranah pendidikan. Pada kajian ini menjadikan salah satu referensi untuk menambah wawasan dan pencerahan tentang keluarga dan cara mewujudkan keluarga sakinah.

Berbicara tentang keluarga sakinah bukan berbicara tentang orang lain, melainkan tentang diri sendiri. Dalam ajaran Islam, tujuan dari membangun keluarga adalah terbentuknya sakinah, mawadah, warahmah. Pasangan adalah sesuatu yang berbeda. Karena perbedaan itulah yang akan menjadikan saling melengkapi. Tinggal bagaimana para pasangan itu mengetahui cara mengelolanya. Seperti yang sudah sangat jelas tersurat dalam Al Qur’an, yakni surah Ar-Rum ayat 21.

Ada beberapa istilah penggunaan kata keluarga yang penuh dengan cinta kasih. Tetapi secara khusus Islam menjelaskan ada tiga hal yang menjadi pedoman dasar yang harus diperhatikan, yaitu istilah sakinah, mawadah, warahmah.

Pertama adalah sakinah. Sakinah dalam artian adalah dinamis, karena dalam sebuah pasangan pasti terjadi dinamika. Dalam hal ini ada pola interaksi dengan tipe kepribadian manusia yang berbeda. Ada dinamika yang terbentuk, dan lahirlah kesepakatan antar keduanya. Dinamika ini bisa berupa hal yang menyenangkan ataupun menenangkan hati kehidupan. Kedua,adalah mawadah. Artinya cinta yang bersyarat. Maksudnya adalah ketika dalam membangun suatu hubungan, cinta yang dibangun mempunyai beberapa syarat agar mampu melahirkan kesempurnaan. Ketiga,yakni rahmah. Rahmah itu artinya ‘welas asih’. Cinta yang tulus dan tidak bersyarat. Karena cinta sudah menjadi keputusan akhir sehingga cintanya akan semakin kuat.

 

Empat pilar menjalin hubungan dengan pasangan

Terdapat empat pilar yang menjadi landasan dalam menjalin hubungan, yakni komunikasi, kepuasan, menutup peluang aneh-aneh, dan komitmen kegamaan.

Pertamaadalah komunikasi. Komunikasi merupakan kunci dari sebuah hubungan. Ada tiga tipe komunikasi, yakni terbuka (agresif), pendiam (pasif), dan aserif (lugas). Dalam menjalin komunikasi, kuncinya adalah bil hikmah. Keduayakni kepuasan, baik itu kepuasan dalam hal psikologis, sosial, ekonomi, seksual, dan lainnya. Ketiga,menutup peluang aneh-aneh. Segera tutup peluang yang negatif, agar tidak menambahkan peluang yang tidak didinginkan dalam keluarga. Keempatadalah kualitas keberagamaan. Dalam kehidupan rumah tangga hendaknya mempunyai komitmen kegamaan bersama-sama, sehingga akan seimbang antar keduanya.

Cinta saja ternyata tidak cukup. cinta itu bukan seperti batu, yang tiba-tiba teronggok di suatu tempat, tetapi cinta itu ibaratkan membuat roti, yang harus selalu diperbaiki setiap waktu dan diperbaharui. Cinta itu bukan jatuh (fallin in love), tetapi cinta itu diciptakan.

Dilansir dari pesan yang disampaikan Bapak Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si. tentang proses merawat cinta dalam sebuah ikatan rumah tangga. “Dalam berproses menjalin cinta ada beberapa istilah, yakni cinta romantis, penyesuaian, pemahaman dan kesadaran, transformasi, dan cita sejati”, pungkasnya.

Konfilik adalah hal yang wajar dalam sebuah pasangan. Pandangan baru tentang konflik adalah bermanfaat dalam sebuah pasangan. Adanya dinamika memberikan paradigma saling terbuka dan memahami. Dengan adanya konflik akan mendorong perubahan dan mengembangkan diri. Jadilan pasangan sebagai pembelajar yang baik, sehingga mampu menghargai dinamika dan proses. Konflik itu bukan hal yang harus ditekan ataupun dihindari, tetapi harus dibicarakan dan diselesaikan.

 

RBE (Rekening Bank Emosi)

Membangun rasa saling percaya dalam sebuah hubungan adalah sebuah keharusan, ada istilah RBE (Rekening Bank Emosi). Perasaan jika didiamkan akan berkurang dan turun. Jika komunikasi tidak bagus, maka akan menurun. Perihal perasaan, penentunya adalah pihak kedua (pasangan).

Agar hubungan berkualitas, maka setoran harus maksimal, yakni sebuah kebaikan yang harus disetorkan kepada pasangan, misalnya pemenuhan kebutuhan, menepati janji, meneuhi harapan, dan meminta maaf. Tetapi apabila hal negatif ataupun tarikannya adalah keburukan, maka akan menghilangkan setoran kebaikan. Harus ada hubungan yang seimbang antara setoran dan harapan.

Bahkan ketika terjadi permasalahan dalam rumah tangga, ada hal-hal yang harus diselaraskan, yakni pahami masalahnya, analisis dan mendefiniskan masalah. Tentukan goal nya, lalui tahapan tangga belajar. Jangan terlalu tinggi, tetapi bertahap dan berjenjang. Tentukan strategi pemecahan masalah, dan aiakhiri dengan implementasi. Selanjutnya adalah melakukan evaluasi. Apabila tidak selesai, maka harus ditinjau kembali terkait proses yang telah dilalui sebelumnya. Keluarga akan berkembang menjadi lebih baik jika didasarkan pada pembelajaran dan keinginan berubah ke arah yang lebih baik. Semua orang berhak untuk bahagia, asalkan mempunyai keinginan untuk memperjuangkan dengan sungguh-sungguh. (LTA)