Leadership Webinar Bersama Sherly Annavita Rahmi

  • 07 Jan 2021
  • 196
Leadership Webinar Bersama Sherly Annavita Rahmi

 

 

Senin, 4 Januari 2021. Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta gandeng Sherly Annavita Rahmi mengadakan Leadership Webinar dalam rangka meningkatkan motivasi siswi menyambut semester baru. Dengan mengangkat tema Student Today, Leader Tomorrow “Merancang Masa Depan Yang Gemilang”, peserta didik kelas I sampai VI mengikuti agenda tersebut dengan penuh antusias.

“Dengan agenda dan tema tersebut, kita sebagai santriwati harusnya memiliki rasa bangga tersendiri. Karena sudah dibiasakan sejak MTs untuk memimpin. Misalnya dalam memimpin di tingkatan pengurus kelas. Memimpin bukan hanya sekedar jabatan, tetapi mampu memanjemen orang lain dan bekerja bersama”, jelas Fatma Latifah selaku ketua PR IPM Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta ketika memberikan sambutan.

Direktur Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd. memberikan sambutan selanjutnya. Beliau menyambut siswi baru di semester 2 ini dan menyampaikan bahwa santriwati di Madrasah Mu’allimaat harus mempunyai lima kualifikasi utama. “Hari ini adalah hari yang membahagiakan, karena hari pertama dalam memasuki pembelajaran di semester 2. Dalam mengikuti proses belajar, santri Madrasah Muallimaat harus memiliki lima kualifikasi, yaitu keilmuan, kepribadian, sosial kemanusiaan, kecakapan dan gerakan. Ditambah lagi ada 3 spirit yang harus dimiliki, yakni disingkat KPK (Kedisiplinan, Pantang menyerah dan Keikhlasan”, ujar beliau.

Madrasah Mu’allimaat adalah sekolah pemimpin, sehingga sikap kepemimpinan harus menjadi bekal utama. Selain itu, peserta didik juga disiapkan untuk menjadi pemimpin perempuan berkemajuan di masa mendatang. Sebagai ujung tombak persyarikatan, belajar ilmu pengetahuan di Mu’allimaat adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan dengan maksimal.

Kesempatan untuk bisa berinteraksi bersama Sherly Annavita Rahmi adalah sangat langka dan dinanti para generasi muda. Hal tersebut diamini oleh Ibu Direktur, “Ini adalah kesempatan emas untuk bisa berkomunikasi dengan Sherly Annavita Rahmi. Oleh karenanya, anak-anakku harus memanfaatkan sebaik mungkin untuk bisa berdiskusi dan bertanya”, pungkas beliau.

Diawali dengan pembacaan data diri pemateri, Sherly Annavita Rahmi hadir memaparkan fakta-fakta dan beberapa hasil penelitian tentang kondisi bangsa Indonesia bahkan dunia ketika menghadapi tahun dengan bonus demografi. Kabarnya, 9 tahun ke depan di seluruh dunia akan berhadapan dengan keadaan tersebut.

Selanjutnya beliau mencoba mendefinisikan makna anak muda.”Bicara anak muda, bukan lagi bicara tentang usia, tetapi mind set dan pilihan sikap. Bicara anak muda berarti bicara tentang masa depan. Karena tidak mungkin anak muda menawarkan masa lalu. Yang bisa ditawarkan adalah masa depan. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan”, ungkap Sherly Annavita Rahmi.

Masa depan akan datang pada siapa yang sudah mempersiapkan saat ini. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama dalam mencapai masa depan, yang menentukan adalah siapa yang mau bekerja keras dan bekerja cerdas. Sehingga berbagai persiapan harus segera dilakukan.

Jika berbicara tentang persiapan untuk mencapai masa depan, Sherly Annavita Rahmi menjelaskan ada empat tipe manusia, antara lain: manusia pesimis, realistis, optimis, dan progresif. Tidak ada alasan untuk anak muda bersifat realistis apalagi pesimis. Yang bisa dilakukan adalah ada pada tangga optimis, dan perlahan menuju tangga progresif. Pada tangga progresif hanya akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yakni perubahan dan pembaharuan. Selain itu, untuk mempersiapkan hidup di masa mendatang, kualitas manusia dibedakan menjadi empat, yakni manusia standar baik, lebih baik, terbaik dan excellent.

Lalu, apa yang membuat berbeda? Jawabannya adalah “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, adalah sebuah kepastian. Orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu adalah orang yang rugi”, tegas Sherly Annavita Rahmi.

Sekarang ini, menjadi baik saja tidak cukup. Tambah lagi tahun 2021 seluruh dunia akan memasuki Industry 5.0. Masa dimana akan mengandalkan tiga kata kunci konektivitas, kolaborasi, dan kecepatan. Jangan hanya menjadi manusai yang apa adanya, jadilah manusia semaksimal mungkin. Sehingga harus mengetahui potensi diri, atau disebut dengan istilah kecakapan diri yang bisa dimaksimalkan dalam suatu bidang tertentu. Sempurna di bidangnya, bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan bersama.

Dunia tidak akan mencatat manusia yang paling kaya atau cantik atau bahkan  tampan. Penguasa dunia bukan terukur dari kekayaan. Tetapi yang ditulis adalah dia yang bisa memberikan manfaat kepada sesama. Contohnya adalah penemu Microsoft, Bill Gates yang membentuk komunitas dibawahnya. Pak Habibie, beliau mempunyai Habibie Center untuk mencetak Habibie muda. Dan KH Ahmad Dahlan, beliau sudah berpikir kemajuan, dengan mendirikan Muhammadiyah, agar impact lintas generasi bisa dipertahankan.

Dunia ini terlalu luas untuk kita kecilkan dengan masalah kita sendiri. Dunia ini terlalu luas untuk dikerdilkan oleh masalah yang kita munculkan sendiri. Bukan lagi berpikir tentang seberapa besar perubahan, tetapi berpikir bagaimana kita terlibat dalam perubahan. Suatu kesempatan perubahan akan datang pada orang yang sudah menyiapkan.

Sherly Annavita Rahmi menuturkan konsep tentang baik dan benar. “Kecerdasan paling tinggi adalah daya juang dalam mempertahankan sesuatu. Tentang baik dan benar, bahwa baik sudah pasti benar, benar belum tentu baik. Karena standar baik tidak akan pernah berubah”, ulasnya.

Teringat dengan perkataan perdana menteri Inggris perempuan pertama, Margaret Tacher. ‘Perhatikan pikiran kita, karena akan menjadi ucapan. Perhatikan ucapan karena akan menjadi tigkah laku dan tingkah laku akan menajdi kebiasaan. Pada akhirnya kebiasaan akan menjadikan takdir kita’.  

Berubah harus berawal dari diri sendiri, sehingga motivasi dari dalam diri sangat diandalkan. Kenali diri sendiri! Siapa kita di masa depan? Apa cita-cita kita? Dengan konsep Smart (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely) goal setting. Seseorang menemukan motivasi besar hanya ada tiga alasan, yakni rasa sakit yang dia miliki, harapan yang dia lihat ke depan, dan saat rasa yakinnya lebih tinggi dari rasa takutnya.

Pada akhirnya, Sherly menyampaikan “Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah langkah kita yang terlalu pendek. Tidak ada visi yang terlalu besar, yang ada hanyalah misi kita yang terlalu kecil. Pastikan kita memanjangkan langkah dan besarkan misi. Untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kita dapatkan, pastikan kita akan melakukan langkah yang belum pernah kita lakukan. Karena akan selalu ada langkah di atas rata-rata untuk mendaptkan hasil di atas rata-rata.”

“Menurut Albert Einstein, sesuau yang gila adalah ketika melakukan sesuatu yang sama dan berulang-ulang, tetapi mengharapkan hasil yang lebih”, imbuhnya. Bicara anak muda bukan lagi bicara tentang usia, tetapi tentang pilihan sikap. Selama harapan, optimis, dan keyakinan masih ada di dalam dada, maka kita masih sama-sama muda. Pada khrnya aka nada yang berubah dan akan ada yang bertahan. Namun satu yang pasti, bahwa harapan dan keyakinan dan cita-cita tetap harus diperjuangkan.

Agenda pagi ini diakhiri dengan tanya jawab, baik secara langsung dan tidak langsung. Seluruh peserta didik sangat antusias dan mengikuti webinar dengan hikmat. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan, baik melalui zoom meeting ataupun live chat di Youtube.

Sebagai pungkasannya, Sherly Annavita Rahmi mengakhiri dengan menyampaikan kalimat penuh makna. “Jika ada 1000 kali jatah gagal, maka kita harus memiliki 1001 keinginan. Untuk mencapai kebaikan lihatlah ke atas, jika dalam hal bersyukur, kita harus selalu melihat ke bawah”, tegasnya. (LTA)