LPPM Mu’allimaat Adakan Launching Majalah Pelita “Parapuan”

  • 18 Feb 2021
  • 192
LPPM Mu’allimaat Adakan Launching Majalah Pelita “Parapuan”

Jumat, 12 Februari 2021 merupakan tanggal bersejarah bagi LPPM (Lembaga Pers Pelita Mu’allimaat) Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, yakni terselenggaranya ‘Bedah Pelita’. Agenda rutin tahunan ini dilangsungkan secara daring dan terbuka untuk seluruh santriwati Mu’allimaat, bahkan ada beberapa sekolah lain yang turut menyemarakan. Terdapat dua acara inti dalam kegiatan ini, antara lain bedah majalah Pelita yang berjudul ‘Parapuan’ dan sharing session dengan para ketua umum LPPM pada pimpinan sebelumnya.

Narasumber pada acara ini terdiri dari enam orang ketua umum LPPM setiap angkatannya, terdiri atas Shabrina Zulmi (angkatan 90), Yasmin Shabrina (angkatan 91), Fida Fathinah Atifah (angkatan 92), Safira Qurrota A’yun (angkatan 93), Pramidazzura Aliva Rifqi (angkatan 94), dan Hanifah Maghfira Nuraini (angkatan 95). Dengan dipandu oleh dua moderator, yakni Safira Karimah dan Sheryn Adelia Rahma.

Bedah majalah ini diawali dengan penyampaian sambutan oleh Ibu Sri Kurniati, S.Psi, mewakili madrasah. “Harapan dari agenda ini dan untuk seterusnya adalah semoga pelita akan selalu menjadi pemberi kabar berita kepada madrasah dan seluruh santriwati tentang kreativitas yang berasal dari santriwati itu sendiri. Selanjutnya LPPM mampu memberikan wadah kreasi atau karya hasil kepenulisan secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Tugas LPPM lainnya juga untuk menggali potensi santriwati yang belum terlihat sehingga bisa memunculkan inovasi baru”, jelas beliau.

Majalah Pelita periode ini mengambil judul besar, yakni “Parapuan: Eksistensi Perempuan Menghadapi Peradaban”. Istilah ‘Parapuan’ merupakan kata majemuk dari para dan perempuan. Dari judul majalah ini menggambarkan bahwa paradigma tentang sosok perempuan tidak akan habis untuk diperbincangkan. Ditambah lagi banyak kontroversi pemahaman ditengah masyarakat tentang peran, posisi, dan gerak langkah perempuan. Selain itu, juga mengandung makna bahwa perempuan mampu mengambil peran dalam berbagai bidang dan mampu bangkit dari ketertindasan.

Majalah ini sangat asyik dibaca oleh kalangan pelajar, disamping bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami, dalam hal konsep pengambilan warna yang fun dan colorfull memberikan daya tarik tersendiri. Warna yang dominan ceria ini untuk melambangkan sosok perempuan yang masih proses belajar. Tema perempuan sebenarnya sudah pernah diambil pada majalah tahun 2018. Perbedaannya adalah terletak pada cakupan tema. Tahun 2020 ini cakupannya lebih luas, tidak hanya berkutat pada kader perempuan Muhammadiyah saja, melainkan bisa berupa lifestyle, pola pikir, peluang dan wawasan tentang kaum perempuan.

Gelombang pandemi covid-19 ini memberikan tantang tersendiri bagi eksitensi LPPM, lebih khusus dalam hal publikasi. Publikasi kali ini sangat berbeda dengan tahuan sebelumnya. Jika di masa sebelum pandemi covid-19 melanda, euforia penyebaran dan publikasi dilakukan secara langsung kepada seluruh santriwati Mu’allimaat dalam bentuk majalah cetak. Tetapi pada tahun ini, pubikasi dilakukan secara daring, majalah yang dihadirkan juga dalam versi online. Bisa diakses melalui media website Muallimaat, yaitu “muallimaat.sch.id”.

Yasmin Shabrina, selaku ketua umum LPPM angkatan 91 mengisyaratkan bahwa perlu pemaknaan kembali terkait logo LPPM. “Logo LPPM ini sebenarnya mengandung makna mendalam. Mulai dari tulisan LPPM, yang berarti Lembaga Pers Pelita Mu’allimaat. Dipermanis dengan lambang pena bulu yang melambangkan media untuk bisa mencurahkan pikiran. Terdapat buku yang terbuka menggambarkan beragam referensi keilmuan yang menjadi pedoman LPPM. Dan tambahan sinar matahari yang melambangkan Persyarikatan Muhammadiyah”, ujarnya.

Ketua umum LPPM angkatan 92, Fida Fathinah Atifa turut memberikan argumentasinya tentang passion menulis. “Menulis itu asyik. Mengapa demikian? Asiknya menulis itu ketika kita mempunyai keresahan tentang suatu hal dan ingin disampaikan sangat mudah untuk menuangkan, serta sebagai tempat menyuarakan pendapat dalam bentuk tertulis. Bisa menemukan permasalahan dalam pikiran dengan bebas dan tanpa sekat. Bisa jadi healing, karena  bisa mencurahkan isi hati ketika tidak ingin berbicara dengan manusia, bisa dicurahkan melalui tulisan”, ungkapnya sarat akan makna.

Berbeda dengan narasumber lainnya yang menyampaikan seputar perjuangan di LPPM kala itu hingga dapat mengambil hikmahnya pasca lulus dari Madrasah Mu’allimaat. Ada yang menuturkan bahwa berproses di LPPM Mu’allimaat sangat bermanfaat bagi jurusan Kedokteran yang diambilnya. Walaupun tidak secara khusus menjadi seorang jurnalis, kemampuan menulis bisa selalu diterapkan di mana saja, bahkan media sosial sekalipun. Melalui media sosial bisa untuk menyampaikan berita kebaikan sesuai dengan bidang studi, tentunya dengan imbuhan redaksi kata-kata yang apik.

Agaknya pandemi ini memberikan pelajaran sangat bermakna untuk kita semua sebagai generasi muda masa depan bangsa. Memulai dari menuliskan hal sederhana yang kita bisa merupakan upaya kecil yang akan membantu kita agar selalu dikenang oleh sejarah peradaban manusia. Sebuah karya akan sangat bermakna apapun bentuknya, tergantung kita akan mencobanya dari mana dan memahaminya melalui sudut pandang apa? Karena menulis itu bukan hanya menuangkan isi pikiran saja, melainkan mampu memberikan nyawa pada suatu karya. (LTA)