Mua’llimaat Selenggarakan Sosialisasi Awal Waktu Subuh Ramadhan 1442 H

  • 14 Apr 2021
  • 215
Mua’llimaat Selenggarakan Sosialisasi Awal Waktu Subuh Ramadhan 1442 H

Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta selenggarakan kajian rutin yang ke-2 dengan tema ‘Sosialisasi Awal Waktu Subuh & Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tentang Fatwa Ibadah Bulan Ramadhan Saat Wabah Covid-19. Agenda ini dilaksanakan pada hari Kamis, 8 April 2021 secara virtual, dengan narasumber Ustadz Atang Solihin, S.Pd.I., M.S.I. Beliau adalah pendidik di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus Anggota Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai kalangan, terdiri atas pendidik, tenaga kependidikan, wali siswi, dan peserta umum.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di belahan dunia manapun. Berbagai persiapan harus senantiasa diupayakan, salah satunya adalah pemahaman beribadah sepanjang ritual di bulan suci Ramadhan. Sama pentingnya dengan penentuan awal waktu shalat Subuh yang selayaknya harus dipahami oleh manusia beriman. Termasuk juga fatwa-fatwa yang menjadi landasan menjalankan ibadah saat pandemi Covid-19 menurut paham Muhammadiyah.

Agenda ini merupakan langkah yang sangat tepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat Islam menjelang bulan Ramadhan. Hal tersebut sejalan dengan sambutan Ibu Agustyani Ernawati, M.Pd. “Kesempatan kali ini adalah  saat yang tepat untuk memberikan bekal dalam menjalankan ibadah puasa. Semoga akan menjadi pribadi yang mutaqin dan lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan”, ujar beliau.

Ibadah di bulan Ramadhan mendapat perhatian lebih oleh Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, karena bersamaan dengan wabah Covid-19. Munas Tarjih virtual tahun 2021 online merupakan langkah strategis Muhammadiyah dalam merumuskan berbagai fatwa dan keputusan dalam bidang fiqih, ibadah, akidah, akhlak, dan muamalah. Salah satunya adalah fatwa menjalankan ibadah Ramadhan selama pandemi Covid-19.

Awal waktu subuh ketika bulan Ramadhan ditentukan berdasarkan berbagai referensi kajian. “Ada tiga latar belakang mengapa pengkajian kriteria awal waktu subuh menjadi sangat urgen. Pertama, karena menjadi perdebatan sejak dahulu sampai sekarang. Kedua, perbedaan ulama dan ahli astronomi dalam menentukan kriteria. Ketiga, berdasarkan buku Koreksi Awal Waktu Subuh (2010)”, jelas Ustadz Atang Solihin, S.Pd.I., M.S.I.

Isyarat waktu shalat dalam Al Qur’an sudah jelas tersurat dalam surah An Nisa ayat 103 dan Al Isra’ ayat 78. Pendapat tentang kriteria awal waktu subuh beragam disampaikan oleh para tokoh ulama dan negara-negara di dunia (Turki, Inggris, Perancis, Nigeria, dan Malaysia) dengan patokan waktu subuh -180. Penelitian juga dilaksanakan di internal Muhammadiyah, seperti kampus UHAMKA, UAD dan pihak individu. Sehingga diputuskan berdasarkan aspek syari’, hasil observasi, astronomi, patokan beberapa negara, dan kemaslahatan.

Mengingat keadaan bangsa Indonesia yang belum membaik terkait tingkat kesembuhan Covid-19, sehingga perlu kajian mendalam tentang aktivitas ibadah ketika bulan suci Ramadhan. Seiring dengan kebijakan pemerintah menyongsong new normal, ketentuan selama pandemi sedikit diperlonggar. Misalnya, Menteri Agama mengedarkan tentang kapasitas masjid yang digunakan untuk beribadah sebanyak hanya 50%. Boleh mengadakan shalat tarawih berjama’ah dengan catatan tempat sekitar terhidar dari penyebaran virus Covid-19 dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Majelis Tarjih PP Muhammadiyah sudah meluncurkan 4 edaran selama pandemi Covid-19 yang disebarluaskan melalui media. (LTA)