Pelajar Berdiskusi “Islam Agama Kemanusiaan”

  • 14 Feb 2021
  • 229
Pelajar Berdiskusi “Islam Agama Kemanusiaan”

Kamis, 11 Februari 2021. PR IPM Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta melangsungkan agenda, yakni ‘Pelajar Berdiskusi’ secara daring. Tema yang diusung adalah ‘Islam Agama Kemanusiaan’. Menggandeng satu pemateri dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Insani PP IPM, Ipmawan Yusuf Yanuri.

Diskusi ini merupakan agenda rutin tiap bulannya, berada dibawah koordinasi bidang PIP (Pengkajian Ilmu Pengetahuan) PR IPM Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Keberlangsungan diskusi ini menitikberatkan pada pemahaman peserta sesuai dengan tema yang ditetapkan. Selain itu juga untuk mengasah pola pikir agar selalu kritis dalam segala keadaan dan menyikapi berbagai macam tantangan.

Hal tersebut sejalan dengan penyampaian harapan oleh Ketua Umum PR IPM Madrasah Mu’allimaat, Ipmawati Fatma Latifah. “Seorang pelajar Muhammadiyah harus senantiasa aktif dan kritis dalam segala keadaan. Adanya diskusi ini harapannya bisa memberikan wadah agar teman-teman tidak pasif. Selain itu, acara pelajar berdiskusi ini memberikan alternatif tambahan keilmuan dalam segala bidang, baik internal maupun eksternal. Sehingga mendapatkan wawasan yang beragam. Tentunya dengan pemateri dan tema yang tidak monoton setiap acaranya”, ujarnya.

Tema diskusi ini mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang humanis dilengkapi dengan segala strateginya untuk selalu bermanfaat bagi kemanusiaan. “Agama Islam lebih dari sekedar sebuah formalitas, tetapi juga risalah yang agung bagi transformasi sosial dan tantangan bagi kepentingan manusia. Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Sayangnya, tidak sedikit tindakan-tindakan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan tapi mengatasnamakan agama Islam”, jelas Ipmawati Nur Abidah, Kepala Bidang PIP PR IPM Madrasah Mu’allimaat ketika menjelaskan latar belakang pemilihan tema.

Upaya pemaksimalan konsep berlomba-lomba dalam kebaikan harus selalu dibumikan. Semboyan berbuat kebaikan dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja harus dijadikan identitas, sehingga umat manusia lebih khusus orang Islam tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat keburukan. Yusuf Yanuri, selaku pemateri mengamini pernyataan tersebut. "Karena mengikuti perkembangan zaman, umat Islam perlu merealisasikannya dengan pemikiran moderat, begitupun Muhammadiyah. Sehingga diskriminasi, intoleransi, terorisme dan kekerasan tidak mendapat ruang di Muhammadiyah”, lugasnya.

Pemaknaan tentang Islam sebagai agama kemanusiaan juga bisa menjadi representasi para pelajar zaman sekarang. Para pelajar bukan hanya sibuk dengan urusannya sendiri atau bahkan hanya berdiam diri di rumah saja, melainkan bisa melakukan aktivitas sekecil apapun yang memberikan manfaat bagi sekitar. Karena suatu kebaikan tidak harus menunggu kapan manusia itu bisa berbuat sempurna, cukup lakukan apa yang kita bisa dan berikan apa yang kita punya. Itu saja!

Salah satu peserta, Amanda Fikrotuzzakiya memberikan kesan baik atas terselenggaranya acara ini. "Setelah mengikuti ‘Pelajar Berdiskusi’, saya menjadi tau bahwa muslim yang baik selain ia bertakwa, ia juga menebar kebermanfaatan untuk sekitarnya", ungkapnya pasca acara terlaksana.

“Harapannya peserta dapat memahami bahwa Islam adalah agama kemanusiaan yang memberikan kedamaian bagi seluruh alam. Beranjak dari hal itu, setidaknya terus dikembangkan dan bahkan disampaikan kepada lainnya perihal kebaikan. Sehingga mampu menghapuskan anggapan tentang terorisme, intoleransi, dan diskriminasi dalam tubuh Islam. Oleh karena itu, yang menjadi keyakinan hanyalah menjadikan Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, dan cinta kepada sesama manusia”, pungkas Ipmawati Nur Abidah. (LTA)