Tingkatkan Kualitas Pendidik Dengan Pelatihan Penulisan Soal HOTS

  • 04 Apr 2021
  • 189
Tingkatkan Kualitas Pendidik Dengan Pelatihan Penulisan Soal HOTS

Madrasah Mu’allimaat mengadakan serangkaian pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru, yang salah satunya adalah ‘Pelatihan HOTS’ yang dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 17 dan 18 Maret 2021, pukul 08.00-16.00 WIB. Pelatihan ini merupakan agenda kerjasama Kemenag Kota Yogyakarta yang dilaksanakan secara offlinedengan protokol kesehatan Covid-19. Peserta yang terlibat adalah seluruh guru MTs dan MA, dengan narasumber Ibu Murtinah, S.Pd., M.A. dan Ibu Anik Lestari, S.Pd.

Rangkaian kegiatan pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari, meliputi: hari pertama pemaparan materi, yaitu tentang penyusunan soal HOTS. Dilanjutkan pada hari kedua, yakni praktik dan presentasi hasil penyusunan soal HOTS. Kompetensi seorang pendidik hendaknya selalu ditingkatkan seiring dengan perkembangan IPTEK. Madrasah Mu’allimaat bekerjasama dengan Kemenag Kota Yogyakarta dengan mengadakan pelatihan ini. “Pelatihan HOTS ini merupakan pengimbasan dari mutu dan profesionalitas seorang guru. Bagaimana seorang guru mampu mengarahkan peserta didik untuk berpikir kritis dengan keterampilan 4C, yaitu keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration) sesuai dengan konsep pembelajaran abad 21”, ujar Ibu Elpin Eliana, M.Pd., selaku Wakil Direktur Bidang Kurikulum Madrasah Mu’allimaat pasca kegiatan.

Pendidikan abad 21 ini, proses pembelajaran dengan konsep critical thinking sangat diperlukan. Bukan hanya dibebankan pada proses pembelajarannya saja, melainkan pemberian soal-soal kepada peserta didik harus mengarah pada impelementasi pemikiran yang kritis. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran HOTS harus sebanding dengan penilaian yang HOTS juga.

Berlangsungnya proses pembelajaran, terdapat minimal presentase 10% HOTS yang harus diterapkan. Sedangkan pada pembuatan soal-soal yang diberikan, mengandung makismal 30% HOTS. Adanya faktor HOTS dalam pembelajaran dan pembuatan soal-soal sangat berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir peserta didik. Hal tersebut senada dengan pernyataan dari Ibu Elpin Eliana, M.Pd., “Hal yang perlu dipahamkan oleh pendidik bahwa soal-soal HOTS itu bukan berkaitan dengan soal-soal yang susah untuk dikerjakan, melainkan membiasakan peserta didik untuk berpikir kritis, analisis, dan kolaboratif. Selain itu, melalui latihan soal HOTS diharapkan mampu mengubah pola pikir peserta didik agar terbiasa berpikir secara berjenjang, bukan instan”, imbuhnya.

HOTS (Higher Order Thinking Skills) merupakan kemampuan berpikir yang tidak sekedar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate) atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Proses pembelajaran dan pemberian latihan penyelesaian dalam bentuk soal HOTS. Pengetahuan soal-soal HOST ini diharapkan bisa mengukur kemampuan peserta didik dalam hal: transfer satu konsep ke konsep lainnya, memproses dan menerapkan informasi, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, serta menelaah ide dan informasi secara kritis.

“Trik dasar dalam Menyusun soal HOTS adalah gunakan konteks dunia nyata, berikan pertanyaan yang terkait analisis visual, tanyakan alasan dari jawaban yang diberikan, soal pilihan ganda dan soal objektif dapat mengukur HOTS”, dilansir dari penyampaian pemateri di hari pertama. Tahapan dalam menyusun soal-soal HOTS adalah sebagai berikut: Pertamayakni melakukan analisis KD (Kompetensi Dasar) untuk menentukan level kognitif. Terdapat empat langkah dalam menganalisis KD, antara lain: mencermati KD, melakukan identifikasi lingkup materi/konten, melakukan identifikasi tingkat/level kognitif, serta merumuskan indikator soal berdasarkan lingkup konten, menentukan level kognitif dengan kata kerja operasional yang tepat. Keduaadalah merumuskan stimulus. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memilih materi (stimulus) yang sesuai dengan indikator soal sedapat mungkin kontekstual (materi, waktu, tempat). Dilanjutkan dengan menganalisis, sudahkan menunjukkan proses berpikir HOTS? (C4, C5, C6) dan diakhiri dengan memeriksa stimulus. Ketigaadalah penjabaran KD menjadi indikator soal. Kelimamerupakan proses pengecekan terkait dengan tahapan berpikir peserta didik. Keenamyakni penjabaran KD menjadi indikator soal. Ketujuhadalah proses penyusunan kisi-kisi soal. Proses ini diakhiri dengan pembuatan kartu soal keterampilan berpikir tingkat tinggi. (LTA)