Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan kajian impelementasi madrasah ramah anak. Hal ini untuk mewujudkan pendidikan nir kekerasan dalam proses pembelajaran di Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Senin, 1 Juli 2024 di Aula Prof. Siti Baroroh Baried Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta dan diikuti oleh seluruh guru dan karyawan.
Terdapat dua narasumber dengan materi berbeda, yakni Dr. Diah Puspitarini, S.Pd., M.Pd. (Koodinator Subkom Advokasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyampaikan materi tentang 'Pendidikan Nir Kekerasan'. Sedangkan materi kedua adalah 'Implementasi Disiplin Positif di Madrasah' disampaikan oleh Irfan Amali, M.A. (Co-Founder Peaceantren Welas Asih, Jawa Bara). Kedua materi tersebut menjadi dasar untuk membuka pemahaman guru dan karyawan dalam mewujudkan madrasah ramah anak tanpa kekerasan dan mampu menerapak disiplin positif tanpa hukuman juga hadiah.
Unik Rasyidah, M.Pd., Direktur Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta menuturkan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai konsekuensi dari madrasah ramah anak dan penghargaan yang diberikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan, yakni pesantren perempuan ramah anak. Dengan demikian harus memantaskan diri demi keberlangsungan pembelajaran yang ramah anak di Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Muhammadiyahpun sudah menggarap konsep ini, yakni pendidikan nir kekerasan yang tidak ada unsur kekerasan di dalam proses pendidikan baik di madrasah maupun di asrama.
"Konsep pendidikan ramah anak menjadi hal penting di Mu'allimaat. Semoga acara ini bisa memberikan pemahaman terhadap kita terkait konsep ramah anak. Jangan sampai anak mendapat kekerasan secara lisan maupun fisik", tutur beliau.
Pemateri pertama, Dr. Diah Puspitarini, S.Pd., M.Pd., beliau memaparkan terkait data jumlah anak di Indonesia. Menurut data, Indonesia didominasi oleh usia anak, yakni mulai dari anak lahir hingga usia 17 tahun. Sehingga konsep perlinduangan anak harus menjadi prioritas.
"Prinsip perlindungan anak ada empat, yaitu: non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup dan tumbuh kembang, serta partisipasi anak", ujar mantan Ketua Pimpinan Pusat Nasiyatul Aisyiyah itu.
Dalam penerapan perlinduangan dan pendidikan nir kekerasan, seluruh elemen pendidikan harus memahami betul makna pendidikan. Menurut Diah, pendidikan adalah usaha sadar dalam situasi belajar dan pembelajaran, mengenal potensi diri dalam hal spiritulitas, akhlak, kecerdasan, dan ilmu. Berkembangnya zaman, proses pendidikan turut berubah. Terdapat empat pilar dalam pendidikan sekarang ini, antara lain: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media sosial. Kunci penerapan pendidikan nir kekerasan terletak dari tingkat kepahaman dan kesadaran, adanya perilaku anti kekerasan, dan banyaknya contoh budaya nir kekerasan di sekolah. Pendidikan nir kekerasan ada empat poin, yaitu: toleransi, kasih sayang, partisipatif, dan kolaboratif (guru, peserta didik, wali murid, yayasan dan lingkungan sekitar).
"Solusi dari pendidikan nir kekerasan adalah adanya sekolah tanggap masalah, yakni adanya pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi terhadap permasalahan yang ada. Sekolah yang bagus bukan tanpa masalah, tapi sekolah yang menyelesaikan kasus dengan baik", imbuh beliau.
Berlanjut dengan materi kedua, yaitu impelementasi disiplin positif di madrasah dan merupakan pelengkap dari materi pertama. Pendiri Peacesantren Welas Asih, Irfan Amali, M.A. mengupas materi dengan berdasar pada buku berjudul Disiplin positif (7 Prinsip Disiplin Welas Asih Tanpa Hadiah dan Hukuman). Tujuh point tersebut antara lain: Kesadaran internal bukan kendali dari luar, Konsekuensi logis bukan hukuman, Dukungan bukan hadiah, Koneksi sebelum koreksi, Memahami bukan menghakimi, Mengendalikan diri bukan mengendalikan anak, dan Lembut sekaligus tegas. Disiplin positif bisa dibangun dengan menghidupkan 10 tombol motivasi internal, antara lain: kesenangan, kebanggan, keingintahuan, minat, tujuan, kebutuhan, manfaat, tantangan, keyakinan, dan makna.
“Dalam mendidik anak, harap hapus pola pikir ini, yaitu jangan bertekad untuk mengubah anak-anak, tetapi ubahlah pribadi diri sendiri. Perubahan yang nantinya terjadi pada anak adalah bonusnya. Paradigma spiritual cara mendidik juga harus ikut berubah jika ingin menerapkan konsep disiplin positif ini”, tegasnya. (LTA)
Haflatul Maktabah 2026: Meriahkan Bulan Bahasa Dan Sastra, Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Dorong Minat Literasi Siswi Dan Guru
2026-10-10 08:18:19
Tahniah!! 24 Siswi Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Ikuti Wisuda Tahfidz Periode Ke-3
2026-10-03 11:48:28
Penerjunan Praktik Mengajar Siswi Kelas Iv Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Menjadi Bekal Persiapan Mubaligh Hijrah 2027
2026-10-01 07:26:07
Tingkatkan Kompetensi Guru, Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Menyelenggarakan Pengenalan Dan Bedah Soal Hots
2026-09-29 12:23:07
Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Mengadakan Kegiatan Pengembangan Diri
2026-09-29 11:21:58
Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Kembali Gelar Aksi Bergizi Untuk Mendorong Siswi Terapkan Pola Hidup Sehat
2026-09-29 10:32:51
Tingkatkan Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab: Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Kedatangan Tim Linguatech Prodi Pendidikan Bahasa Arab Umy
2026-09-29 10:11:12
Kembangkan Potensi Dan Keterampilan Siswi, Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Hadirkan Beragam Kegiatan Pengembangan Diri
2026-09-28 23:38:05
Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Dukung Berbagai Potensi Anak Dengan Mengadakan Kegiatan Pengembangan Diri Secara Rutin
2026-09-28 07:53:17
Jalin Silaturahmi, Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Terima Kunjungan Studi Tiru Mts Al-irsyad Salatiga
2026-09-26 11:31:15
Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta
Kontak Lengkap :
Menu Navigasi :